Menteri AHY lepas transmigran asal Jateng, Jatim dan DIY
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangungan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono melepas keberangkatan para transmigran dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Elshinta.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangungan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono melepas keberangkatan para transmigran dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta menuju lokasi transmigrasi di beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, Sulawesi, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat, Kamis (5/12/2024) dari halaman kantor Gubernur Jateng di Semarang.
Ada 48 keluarga yang terdiri dari 200 jiwa yang berangkat. Setiap keluarga ada yang membawa satu anak, ada juga yang tiga anak.
Agus Harimurti kepada para transmigran berpesan, "Bapak dan Ibu akan memulai sesuatu yang baru yang tidak selalu mudah. Tantangan baru, suasana baru, tapi justru di balik sesuatu yang baru banyak peluangnya."
Ia berharap setiap keluarga meneguhkan niat dan pikiran. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan maka pasti bisa merintis pekerjaan usaha dan kehidupan yang makin baik ke depan. Pemerintah akan harus selalu hadir membantu.
"Saya juga mengharapkan Kementerian Transmigrasi mengawal dan mendukung keuarga yang akan berangkat," katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Kamis (5/12).
Ia menambahkan, dari kawasan transmigrasi memang merintis sesuatu dari nol, kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan pusat ekonomi baru. Presiden Prabowo Subianto berharap pembangunan tumbuh dari bawah.
Menteri AHY ini berjanji bertanggungjawab mengkoordinasikan semua upaya bagi transmigran. Urusan tanah yang sering jadi masalah utama, diusahakan sertifikatnya segera berada di tangan pemiliknya, para transmigran.
Sementara itu Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan kementeriannya sedang membuat blue print atau rancangan kerangka kerja terperinci yang memuat detail soal transmigrasi dan road map transmigrasi untuk jangka waktu lima, 10, hingga 25 tahun ke depan.
"Transmigrasi seperti mati suri selama 25 tahun terakhir. Oleh karena itu kini akan dihidupkan kembali," katanya.
Ia mengakui program transmigrasi pada era Orde Baru sentralistik. Semua ditentukan dari pemerintah pusat. Namun paradigma itu kini berubah. Itu sesuai dengan UU Nomor 29/2009 tentang ketransmigrasian yang merupakan revisi UU Nomor 15/2007.
"Transmigrasi sekarang bisa berupa permohonan dari suatu daerah lokasi transmigrasi ke pemerintah daerah yang lain. Jadi ada kerjasama antar-pemerintah daerah," tuturnya.
Bahkan di lokasi transmigrasi, transmigrannya berasal dari pemerintah daerah setempat dan daerah lain. Dengan cara begitu maka akan terjadi percampuran langsung orang lokal dan pendatang. Peberangkatan, penempatan, membangun infrasturktur, saranaa prasarana, hingga kesejahteraan dikelola bersama di daerah transmigrasi.
Menurut Sulaiman Suryanagara tranasmigrasi model seperti itu memang bertujuan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan seperti yang dikehendaki oleh Presiden Prabowo Subianto.
Para transmigran yang siap berangkat itu semuanya telah berkeluarga. Mereka membawa serta anak istrinya. Di Jawa rata-rata mereka adalah buruh tani dan pekerja serabutan.
Seperti pengakuan Ahmad Teguh, seorang penderes nira kelapa untuk dijadikan gula merah asal Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ia yakin dengan bertransmigrasi ke Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.
"Setiap transmigran mendapat fasilitas satu rumah tinggal dan lahan pertanian 2 ha. Kami juga mendapat pelatihan soal pertanian selama seminggu di Yogyakarta, kemudian seminggu di Cilacap, dan empat hari di Klampok," kata Teguh.
Pelatihan disesuaikan dengan kondisi di lokasi transmigran agar mereka dapat langsung menyesuaikan diri dan siap menjadi patriot menggapai kehidupan lebih sejahtera.